| Dari dulu hingga sekarang Adenium masih saja bertahan walaupun sempat dihantam badai Aglaonema dan Anthurium. Tak aneh ada yang menahbiskan Adenium sudah menjadi tanaman mapan, sejajar dengan anggrek.
Biar harga jatuh, nyatanya tetap saja dicari orang, dan malah makin populer. Hampir setiap rumah memiliki barang satu-dua pohon. "Adenium mah kagak ada matinye," begitu istilah Babe Azwad, petani muda di Gondrong, Karang Tengah kepada LangitLangit.
Namun --maaf-maaf kata-- untuk Adenium yang menonjolkan bunga sebagai daya tariknya --suka atau tidak suka-- pamornya sudah mulai bergeser, baik harga maupun penggemarnya.
Godongijo sebagai barometer adenium yang mengutamakan bunga sebagai simbol jualannya memang masih berjaya. Namun di kalangan pembudidaya adenium, terutama petani, pergeseran itu sangat kentara.
Sejak tahun 2006 lalu sudah disinyalir banyak orang, Adenium grafting kelas A (ukuran caudex 3-5 cm) mulai turun pamor. Baru awal tahun ini saja kita sempat dikejutkan dengan munculnya Adenium grafting jenis baru, yaitu Doxon, adenium bunga susun atau double petal.
Namun sejak tahun 2006 sesungguhnya justru Adenium jenis Arabicum mencuri perhatian, setelah mereka terpikat dengan pembudidayaan adenium jenis Obesum hingga kini. Permintaan begitu banyak; sampai-sampai para petani kewalahan dan stok habis. Ditambah lagi di Thailand sendiri harga biji Arabicum naik. Hal ini menjadi pemicu, membuat petani berlomba dan semakin bernafsu untuk membudidayakan adenium jenis ini.
Sampai awal 2007, berdasarkan pengamatan, Arabicum masih menjadi primadona bagi pembudidaya adenium di Jabodetabek. Ini berbeda dengan para pembudidaya di daerah-daerah lain di luar Jabodetabek, yang umumnya masih berkutat pada penyemaian Adenium Obesum.
Beberapa jenis Arabicum yang populer di kalangan petani Jabodetabek itu antara lain, Yak Saudi, RCN dan Peth na wang yang notabene semuanya adalah jenis Adenium Arabicum.
Akibatnya pasaran biji-biji Arabicum juga bagus. Harga bisa naik turun seirama persediaan barang. Saat Thailand dan Taiwan tidak menghasilkan biji, akibat --konon-- cuara buruk beberapa waktu lalu, misalnya, para petani itu sabar menanti. Dan ketika, biji-biji arabicum akhirnya mulai mengalir lagi dengan harga meningkat, mereka pun tak sungkan-sungkan memborongnya. Mereka lagi mengintai peluang, rupanya.
(Bebenbegaul)
Catatan: TREND 2007, merupakan kolom tetap LangitLangitCom yang membahas mengenai perkembangan tanaman hias di tanah air. Anda diundang berperanserta mewartakan keadaan di daerah Anda.
|